Kisahku: Bully

 Bully (1) 


Aku adalah seorang anak berkulit kuning dengan rambut lurus. Aku adalah seorang anak yang kalem meski usiaku 4 tahun. 


Saat itu aku sedang bermain dengan seorang anak laki-laki bernama Anwar, kulit hitam dengan rambut kriwil. Pertemananku dengannya bisa dibilang asik. Dia teman laki-laki pertamaku, teman bermain seusiaku. 


Suatu ketika, sekeluarga pindah ke desaku dengan meng kontrak rumah milik orang tua Anwar. Seorang ayah dan ibu dengan 3 anaknya pindah ke desa Wonokromo pada tahun 2000an sebelum gempa Jogja 2006.

Hal yang kutahu mereka seharusnya keluarga yang cukup mapan, sebab anak-anak mereka punya sepeda anak-anak. Sementara Aku dan temanku Anwar tidak/belum memiliki sepeda anak-anak dari orang tua kami. 

Aku tidak kenal dengan semua anggota keluarga itu, kecuali dengan dua anak mereka dari keluarga itu. Mega seorang anak sepantaranku dan Ais/Fais adiknya (aku tidak ingat betul nama adiknya). 

Mega dan adiknya bermain sepeda di depan rumah kontrakan mereka. Mega sudah bisa memakai sepeda roda dua sementara sang adik masih perlu roda tambahan, sepeda roda empat. 

Aku dan Anwar sebagai anak-anak yang tinggal di dekat mereka akhirnya tertarik dengan kehadiran 'teman baru'. 

Sebagai anak-anak kami langsung mencoba berkenalan dengan mereka. Kami tahu nama mereka. Mereka seharusnya tahu nama kami juga. 

Suatu hari Mega dan Adiknya bermain lagi dengan sepeda. Kami ikut bermain dengan mereka dengan sekedar berlarian mengikuti Mega ataupun adiknya. 

Entah salah siapa, Aku atau Anwar, sepertinya salah kami berdua. Kami mulai berani bertindak nakal kepada Mega dan Adiknya. Kami menggoda Mega yang terbilang anak cantik dengan rambut keriting bergelombangnya. 

Kami juga menggoda sampai Ais adik Mega menangis karena kami kejar saat bekerja. Apalagi Ais adalah seorang anak sudah bisa berjalan tapi masih belum bisa bicara. Kesenangan membully tanpa sadar ada adalam diri kami. Kami tertawa ketika tidak paham apa yang diucapkan, setelah kuingat sepertinya Ais marah kami ikuti sambil bermain sepeda tapi kami tidak tahu apa yang dia ucapkan. Kami semakin beringas dan senang sampai membuatnya menangis. 

Pada akhirnya Ais menangis. Sang Kakak Mega membela adiknya. Tentu karena kami main di depan rumah kontrakan. Kami lari seketika masalah menjadi besar. Aku lari ke rumah, tapi aku tidak tahu Anwar bagaimana. Soalnya ruamh dia dekat persis dengan kontrakan yang notabene rumah orangtuanya yang disewakan. 

Kemungkinan besar setelah aku lari ke rumah. Anwar dimarahi orang tua Mega. Tapi karena Anwar anak pemilik kontrakan, aku tidak yakin bagaimana Anwar menyelesaikan masalah. Apakah dia menyalahkanku sehingga kejadian yang menimpaku nantinya terjadi. Ataukah lek Mus orang tua Anwar membela anaknya sehingga orang tua Mega tidak berani sehingga menargetkanku nantinya. 

**

Aku tidak tahu kapan ini terjadi persisnya. Apakah pada hari yang sama. Ataukah pada beberapa hari tidak jauh dari hari aku dan Anwar membuat Ais menangis. Hal yang pasti terjadi tak lama setelah kejadian itu. 

Sore hari pada Maghrib, anak-anak sekolah desa ku belajar baca Quran di rumah seorang pak Kiyai yang memiliki pondok. Pak atau mas Darman. 

Aku selalu bersemangat mengaji ketika itu. Semangat siapa yang paling jago mengaji. Hafalan siapa yang terbanyak. Sungguh kompetisi dan semangat membara. Selain tentu bersenang-senang 'gojek' sebelum waktu maghrib buat sholat dan ngaji di mulai. 

Jam setengah lima/ jam lima aku mau berangkat. Aku sudah sampai di depan pintu masuk pondok tempat mengaji. 

Ketika aku di depan pintu, seseorang anak yang lebih besar dariku tanpa basa-basi menyerangku. Seperti kemarahan kakak laki-laki yang membela adiknya. Ya, dia lah kakak laki-laki Mega dan Ais. Aku tidak tahu namanya, sebab dia lebih tua dan tidak bermain denganku. 

Tanpa basa-basi, dia menendang dadaku dengan lompatan. Sehingga aku terjungkal ke belakang dari depan pintu. Tentu aku menangis setelah itu. Aku kembali ke rumah tidak jadi mengaji. 

Btw, seketika alam bawah sadarku mulai membenci dunia mengaji (meski aku tidak tahu apa benar, dan ini hanya perkiraanku di saat aku menulis ini melihat aku mulai tidak bersemangat mengaji pada saat anak-anak). 

Aku menangis ditanya siapa yang membuatku menangis. Aku bilang dia.. (Entah kenapa aku bisa lupa sama orang yang menyakiti saat kecil, tapi sepertinya dulu aku pasti tahu namanya) 

Aku tidak tahu apakah keluarga Mega dilabrak atau enggak. Entah oleh orang tuaku atau orang dewasa di rumahku. Entah ibu, kakak atau paman/bibi.

Namun tak lama setelah kejadian padaku ini. Keluarga Mega pindah entah ke mana. 

Aku minta maaf  itu mungkin salahku... Kenakalan anak kecil yang bisa menjadi prahara. 

Saat dewasa dan ketika melamun. Ingat ini selalu menghantuiku. Aku juga mulai tidak percaya dengan teman dengan tulus. Sepertinya sejak itu alam bawah sadarku mulai terbentuk untuk tidak percaya teman sebaya dan tidak boleh jadi pembully. 

Dewasa ini aku mulai sadar sepertinya Anwar melimpahkan kesalahan padaku. Sebab aku tidak pernah tahu, Anwar dihajar sama sepertiku (Selain catatan perlakuan Anwar kepadaku yang di masa kecil cenderung merugikanku.Namun aku masih mentoleransi sampai aku memutuskan pertemananku dengannya). Dadaku sakit.. Entah berapa hari aku jadi tidak berangkat mengaji karena ini. 

Komentar